SAUDAGAR.NEWS, Sinjai – Sejumlah warga Dusun Karobbi, Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah, membentangkan spanduk berisi tuntutan kepada Kepala Desa Kanrung, Muh. Amir Abdullah, terkait janji pelaksanaan pemilihan kepala dusun (Pilkadus) yang hingga kini dinilai belum memiliki kejelasan.
Spanduk yang dibentangkan warga tersebut bertuliskan, “UNTUK KEPALA DESA KANRUNG, Kami Warga Dusun Karobbi Menagih Janji yang Pernah Diucapkan. Taro Ada Taro Gau! Tania Laing Ada Laing Gau!”.
Dari pantauan media, spanduk itu terpasang di Jalan Poros Sinjai-Malino, Dusun Karobbi, Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah dipampangkan sebagai bentuk kekecewaan atas belum terealisasinya janji yang disampaikan kepala desa di hadapan masyarakat.
Warga menagih janji yang disampaikan Muh. Amir Abdullah saat memberikan pengumuman di hadapan jamaah Masjid Hidayatullah Karobbi pada Jumat, 19 Desember 2025.
Saat itu, kepala desa naik ke mimbar masjid dan menyampaikan bahwa Pilkadus Karobbi akan dilaksanakan melalui mekanisme seleksi dengan dua tahapan tes.
Calon dengan nilai tertinggi, kata dia, akan ditetapkan dan dilantik sebagai kepala dusun.
Pernyataan tersebut disaksikan sekitar 100 jamaah yang hadir dalam salat Jumat.
Namun hingga kini, polemik Pilkadus Karobbi belum menemukan titik terang, sehingga memicu keresahan di tengah masyarakat.
Imam Dusun Karobbi, Ahmad P, membenarkan pernyataan kepala desa tersebut.
Ia menegaskan bahwa janji yang disampaikan di ruang publik harus dipenuhi.
“Benar, apa yang disampaikan Pak Desa saat itu harus dilaksanakan. Pemimpin sejatinya harus jujur dan bertanggung jawab atas apa yang telah diucapkan di hadapan masyarakat banyak,” tegas Ahmad P. kepada media, Senin (09/02/2026).
Hal senada disampaikan Imam Masjid Hidayatullah Karobbi, Muh. Ridwan. Menurutnya, nilai-nilai kepemimpinan dalam budaya Bugis sangat menjunjung tinggi kejujuran dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan.
“Dalam falsafah Bugis dikenal getteng dan lempu. Artinya, pemimpin harus teguh dan jujur, tidak boleh berbeda antara kata dan perbuatan. Jika pemimpin melupakan atau mengingkari ucapannya, maka sanksi sosial dari masyarakat bisa muncul dengan sendirinya,” ujarnya.
Warga berharap Kepala Desa Kanrung tidak mengingkari janji hanya karena kepentingan politik sesaat.
Mereka menilai kondisi sosial masyarakat selama ini berjalan rukun dan damai, dan tidak ingin terpecah akibat polemik Pilkadus.
“Kami berharap Pak Desa tidak membohongi kami. Jangan karena Pilkadus, masyarakat yang selama ini hidup rukun justru saling berseberangan,” tutup Ahmad P.
Saat dikonfirmasi mengenai adanya spanduk itu, Kepala Desa Kanrung, Muh. Amir Abdullah tidak memberikan keterangan.







