Oleh: Dr. Eril, M.H
(Ketua Prodi Magister Hukum Pidana Islam UIAD Sinjai)
SAUDAGAR.NEWS, Opini – Ramadhan selalu datang dengan kelembutan, namun sering pergi dengan keheningan yang menyisakan tanya: sudahkah kita benar-benar memaknainya?
Ia hadir bukan sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai ruang pembentukan jiwa tempat manusia belajar kembali menjadi manusia yang utuh, jujur, dan bertakwa.
Namun, menjelang kepergiannya, Ramadhan seakan berbisik lirih, menyampaikan pesan yang kerap luput kita dengar.
Pesan pertama adalah tentang keikhlasan. Selama sebulan, kita dilatih untuk menahan diri dari hal-hal yang bahkan diperbolehkan di luar waktu puasa.
Ini bukan sekadar soal lapar dan dahaga, tetapi tentang kesadaran bahwa setiap amal memiliki dimensi batin yang hanya diketahui oleh diri dan Tuhan.
Ramadhan mengajarkan bahwa keikhlasan adalah fondasi dari segala amal, dan tanpa itu, ibadah hanya menjadi formalitas tanpa ruh.
Pesan kedua adalah kepedulian sosial. Di bulan ini, kita diajak untuk merasakan bagaimana menjadi mereka yang hidup dalam kekurangan.
Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya kewajiban ritual, tetapi manifestasi dari empati.
Ramadhan mengingatkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga dari sejauh mana kita hadir bagi sesama.
Pesan berikutnya adalah pengendalian diri. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan, Ramadhan melatih kita untuk berkata “cukup”.
Menahan amarah, menjaga lisan, dan mengendalikan nafsu adalah pelajaran penting yang seharusnya tidak berhenti ketika Ramadhan berakhir.
Justru setelah Ramadhan, ujian sesungguhnya dimulai: apakah kita mampu mempertahankan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari?
Namun, ada satu pesan yang paling mendalam: keberlanjutan. Ramadhan tidak pernah dimaksudkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai titik awal.
Ia adalah momentum transformasi, bukan sekadar perayaan temporer. Jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama tanpa perubahan berarti, maka sesungguhnya kita telah kehilangan esensi dari bulan suci itu sendiri.
Kini, ketika Ramadhan bersiap meninggalkan kita, ia tidak membawa apa pun kecuali harapan—harap agar kita tetap menjaga cahaya yang telah ia nyalakan.
Ia tidak menuntut kesempurnaan, tetapi menginginkan konsistensi. Sebab, amal yang paling dicintai adalah yang terus dilakukan, meskipun sedikit.
Akhirnya, Ramadhan pergi, tetapi pesannya tetap tinggal. Ia bersemayam dalam hati yang mau mendengar dan dalam tindakan yang mau berubah.
Maka, sebelum ia benar-benar pergi, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita akan kembali seperti semula, atau justru menjadi pribadi yang lebih baik?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Ramadhan benar-benar hadir dalam hidup kita, atau sekadar singgah tanpa makna.




