PKM BIMA Dorong IKM Nau Palm Sugar Kembangkan Produk Gula Lontar

SAUDAGAR.NEWS, Bulukumba – Upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal terus dilakukan melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA.

Kali ini, tim PKM BIMA menyasar IKM Nau Palm Sugar di Desa Sipaenre, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (20/8/2026).

Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan usaha pengolahan gula lontar melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, pendampingan juga mencakup inovasi produk, penguatan kemasan, pengelolaan usaha hingga pemasaran berbasis digital.

Ketua Tim PKM BIMA, Gina Audina P Alhabsy mengatakan, potensi gula lontar cukup besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

“Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga bagaimana gula lontar dapat diolah menjadi produk yang lebih beragam, dikemas secara menarik dan dipasarkan dengan memanfaatkan teknologi digital,” ujarnya.

IKM Nau Palm Sugar selama ini mengolah nira lontar secara konvensional menjadi gula merah cetak.

Setiap hari, bahan baku yang diperoleh berkisar 20 hingga 30 liter nira dan menghasilkan sekitar 10 sampai 15 kilogram gula merah, tergantung ketersediaan bahan baku serta kondisi cuaca.

Melihat potensi tersebut, tim PKM BIMA kemudian mendorong diversifikasi produk.

Gula merah lontar dikembangkan menjadi gula pasir dan gula cair dengan sejumlah pilihan varian, termasuk original serta perpaduan bahan alami seperti jahe, pandan dan kelapa.

Produksi Mulai Didukung Teknologi
Sebelum penerapan teknologi, tim terlebih dahulu melakukan observasi terhadap proses produksi dan kondisi usaha mitra.

Identifikasi dilakukan untuk mengetahui kebutuhan teknologi, potensi bahan baku serta kendala yang selama ini dihadapi dalam proses pengolahan.

Pendampingan selanjutnya dilakukan secara langsung melalui metode learning by doing. Para pelaku IKM dilibatkan mulai dari proses pengolahan bahan, formulasi produk, pengemasan hingga penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP).

Sejumlah peralatan teknologi tepat guna turut diperkenalkan, seperti mesin penggerus, oven pengering dan ayakan berbahan stainless steel.

Peralatan tersebut digunakan untuk mengolah gula merah menjadi gula pasir lontar dengan ukuran yang lebih seragam.

Mesin penggerus memiliki kapasitas sekitar 1–2 kilogram dalam satu proses, sementara proses pengeringan menggunakan suhu rendah sekitar 50–60 derajat Celsius.

Tahapan produksi dilanjutkan dengan pengayakan, formulasi bahan alami dan pengemasan.

Penerapan teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga membantu menjaga kualitas dan konsistensi produk.

Mitra diberikan kesempatan untuk mempraktikkan langsung penggunaan setiap peralatan agar nantinya dapat mengoperasikannya secara mandiri.

Kemasan hingga Pemasaran Ikut Dibenahi

Pengembangan usaha tidak berhenti pada aspek produksi. Tim PKM BIMA juga memberikan perhatian terhadap tampilan dan daya tahan produk melalui pembaruan kemasan.

Produk gula lontar diarahkan menggunakan standing pouch berbahan food grade dengan sistem kedap udara.

Kemasan dilengkapi identitas merek, label dan informasi produk sehingga diharapkan lebih menarik sekaligus mampu meningkatkan daya saing di pasar.

Di sisi pengelolaan usaha, mitra mendapatkan pembekalan mengenai pencatatan keuangan sederhana, perhitungan biaya produksi serta strategi menentukan harga jual.

Sementara untuk pemasaran, pelaku IKM diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial dan marketplace.

Strategi ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan konsumen di sekitar Desa Sipaenre.

Melalui rangkaian pendampingan tersebut, PKM BIMA menargetkan peningkatan keterampilan pelaku IKM, lahirnya produk gula lontar dalam bentuk baru, peningkatan mutu dan daya simpan, serta penggunaan kemasan yang lebih kompetitif.

Gina berharap inovasi yang diterapkan dapat membuat gula lontar Sipaenre memiliki posisi yang lebih kuat sebagai produk pangan lokal.

“Kami berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan oleh mitra sehingga gula lontar tidak hanya dipandang sebagai produk tradisional, tetapi mampu menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah dan pasar yang lebih luas,” katanya.

Tim PKM BIMA juga mengapresiasi keterlibatan IKM Nau Palm Sugar selama proses pendampingan.

Kolaborasi antara tim dan mitra dinilai menjadi bagian penting agar teknologi serta inovasi yang diperkenalkan dapat berkelanjutan dan memberikan dampak terhadap pengembangan ekonomi masyarakat Desa Sipaenre.