SAUDAGAR.NEWS, Opini – Di era sekarang ini, informasi bisa datang dengan sangat cepat dan mudah, layaknya badai yang menerpa.
Siapa saja bisa bebas berpendapat dan membagikan apa saja di internet.
Tapi sayangnya, tidak semua yang beredar itu benar. Banyak sekali berita campur aduk antara fakta, opini, hingga berita bohong atau hoaks.
Kalau kita tidak hati-hati, sama saja seperti berjalan tanpa pelindung di tengah badai.
Makanya, menurut saya literasi digital itu sangat penting dan ibarat sebuah “tameng” yang bisa melindungi kita dari bahaya informasi yang menyesatkan.
Sebenarnya, literasi digital bukan cuma soal pandai pakai HP atau komputer, tapi lebih ke cara berpikir.
Sama seperti tameng yang melindungi badan, literasi digital menjaga pikiran kita supaya tidak mudah termakan isu, ujaran kebencian, atau dimanipulasi.
Dengan punya kesadaran ini, kita jadi terbiasa untuk memfilter informasi, mengecek kebenarannya, dan membedakan mana yang nyata mana yang hanya opini, sebelum akhirnya kita percaya atau membagikannya.
Hal ini pun sangat selaras dengan ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah SWT berfirman yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Jadi jelas sekali, Islam sangat melarang kita untuk langsung percaya dan menyebarkan berita tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu, karena bisa menimbulkan fitnah dan kerusakan.
Menurut saya, masalah kurangnya pemahaman dalam bermedia sosial ini sangat berbahaya dan bisa merusak kerukunan.
Saya rasa, kemampuan ini harus sudah ditanamkan sejak kita kecil, bukan cuma jadi pelajaran sekolah tapi jadi kebiasaan sehari-hari.
Kita tidak bisa menyalahkan teknologinya, karena yang menentukan baik atau buruk itu adalah cara kita menggunakannya.
Kalau kita tidak mau belajar bijak berselancar di internet, mau sampai kapan kita jadi korban hoaks atau malah ikut menyebarkan hal-hal negatif?
Bayangkan saja, kalau kita tidak punya bekal pengetahuan ini, kita akan sangat rentan tertipu dan terpecah belah hanya karena membaca informasi yang belum tentu benar.
Dampaknya bisa sangat fatal, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Padahal, sekali kita salah langkah di dunia maya, sulit untuk diperbaiki kembali.
Jadi intinya, menjadi orang yang cerdas dalam bermedia itu bukan lagi pilihan, tapi kewajiban.
Literasi digital adalah kunci supaya kita tetap aman dan waras di tengah derasnya arus informasi.
Yuk, kita sama-sama belajar lebih kritis dan bijak, supaya kita bukan cuma pengguna internet yang aktif, tapi juga pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab.
Penulis: Nurul Izzatul Zanna
(Mahasiswa UIAD Sinjai)









