SAUDAGAR.NEWS, Opini – Kita sering merayakan emansipasi perempuan seolah perjuangannya sudah selesai. Perempuan sudah sekolah tinggi, punya karier, bahkan duduk di kursi kepemimpinan.
Sekilas, semuanya tampak setara. Tapi kalau dilihat lebih jujur, ada satu hal yang masih bertahan: batas-batas tak terlihat yang diam-diam membatasi gerak perempuan.
Batas ini tidak datang dalam bentuk larangan. Ia hadir lebih halus dalam ekspektasi. Perempuan boleh sukses, tapi jangan “terlalu sibuk”. Boleh berkarier, tapi urusan rumah tetap nomor satu. Boleh jadi pemimpin, tapi jangan dianggap “terlalu tegas”. Ini bukan sekadar stereotip, ini realitas yang masih hidup di sekitar kita.
Data juga tidak sepenuhnya berpihak. Menurut Badan Pusat Statistik (2024), tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih berada di kisaran 53–54%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai lebih dari 80%.
Artinya, akses memang terbuka, tapi belum benar-benar setara. Banyak perempuan masih tertahan, bukan karena tidak mampu, tapi karena kondisi sosial yang tidak sepenuhnya mendukung.
Di dunia kerja, cerita serupa juga muncul. Laporan dari World Economic Forum (2024) menunjukkan bahwa kesenjangan gender global masih cukup lebar, terutama dalam aspek ekonomi dan kepemimpinan.
Perempuan sering harus bekerja dua kali lebih keras untuk diakui setara. Bahkan, tak jarang mereka harus “membuktikan diri” lebih dulu sebelum dianggap layak, sesuatu yang jarang dituntut dari laki-laki.
Belum lagi soal “beban ganda” yang sering dianggap normal. Perempuan yang bekerja tetap diharapkan menjadi penanggung jawab utama urusan rumah tangga.
Data menunjukkan perempuan menghabiskan waktu jauh lebih banyak untuk pekerjaan domestik dibanding laki-laki. Ini bukan soal kemampuan, tapi soal pembagian peran yang belum adil.
Yang lebih rumit, batas ini sering tidak disadari. Ia dibungkus dalam kalimat-kalimat yang terdengar wajar: “Kodrat perempuan”, “Sudah seharusnya begitu”, atau “Perempuan itu lebih cocok di…”. Tanpa sadar, kalimat-kalimat ini membentuk batas yang sulit ditembus, bukan karena kuat, tapi karena dianggap biasa.
Jadi, apakah emansipasi sudah berhasil? Jawabannya: belum sepenuhnya. Kita memang sudah membuka pintu, tapi jalan di dalamnya masih penuh hambatan. Kesetaraan hari ini masih sering berhenti di permukaan, belum menyentuh akar budaya dan pola pikir.
Karena itu, yang perlu kita dorong sekarang bukan sekadar kesempatan, tapi juga perubahan cara pandang. Perempuan tidak butuh “izin” untuk memilih jalan hidupnya, baik itu berkarier, berkeluarga, atau keduanya. Yang dibutuhkan adalah ruang yang adil, tanpa tekanan sosial yang tersembunyi.
Emansipasi bukan tentang siapa lebih kuat atau lebih tinggi. Ini soal keadilan, tentang memberi ruang yang sama tanpa standar ganda. Dan selama batas-batas tak terlihat itu masih ada, kita tidak bisa pura-pura bahwa perjuangan sudah selesai.
Penulis: Rahmawati, S.E., M.E











