Opini: Menyambut Muharram, Momentum Muhasabah Kebangsaan

Oleh: Bahtiar Rasak, S.Pd.I.
(Ketua Umum DPD BKPRMI Sinjai)

SAUDAGAR.NEWS, Opini – Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar rutinitas kalender yang berlalu tanpa makna.

Bagi umat Islam, kehadiran bulan Muharram membawa getaran spiritual yang sangat kuat.

Ia hadir sebagai cermin besar bagi setiap individu, masyarakat, hingga penyelenggara negara.

Di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini—mulai dari tantangan moral, sosial, hingga politik—Muharram harus kita jadikan sebagai momentum emas untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) kolektif.

Sebagai bagian dari elemen bangsa, khususnya melalui wadah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), kita perlu memandang Muharram bukan hanya sebagai penanda sejarah migrasi fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Lebih dari itu, ini adalah momentum transformasi nilai, mental, dan spiritual demi kebaikan bangsa dan negara.

Muhasabah dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits

Dalam konteks berbangsa, Allah SWT telah mengingatkan kita dengan sangat tegas di dalam Al-Qur’an tentang pentingnya melihat rekam jejak masa lalu untuk menata masa depan yang lebih baik:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat ini merupakan fondasi teologis dari konsep muhasabah. Dalam skala makro, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengevaluasi “apa yang telah diperbuatnya” di masa lalu.

Apakah kebijakan kita sudah berkeadilan? Apakah pemuda kita sudah berakhlak mulia? Ataukah kita justru sedang menumpuk rapuhnya fondasi moral?

Rasulullah SAW juga memberikan panduan tentang siapa manusia yang cerdas dalam mengarungi kehidupan.

Beliau bersabda:
“Orang yang cerdas (akil) adalah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya (dana nafsahu) dan beramal untuk kehidupan setelah mati…”
(HR. Tirmidzi).

Jika ditarik ke dalam konteks kehidupan bernegara, “bangsa yang cerdas” adalah bangsa yang tidak keras kepala dalam kesalahan.

Ketika korupsi, dekadensi moral remaja, dan polarisasi sosial masih terjadi, maka Muharram adalah waktu yang tepat untuk menghentikan ego kelompok dan kembali pada khittah persatuan dan keadilan.

Refleksi Melalui Fatwa dan Pandangan Ulama
Umat Islam tidak boleh pasif.

Semangat Muharram adalah semangat bergerak menuju kondisi yang lebih baik (hijrah).

Khalifah Umar bin Khattab RA pernah mengeluarkan sebuah nasihat yang sangat masyhur, yang menjadi rujukan para ulama dalam bab muhasabah:

“Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang…”

Dalam berbagai fatwa dan risalah kontemporer, para ulama menegaskan bahwa keberlangsungan suatu negara sangat bergantung pada moralitas masyarakatnya.

Ulama besar Mesir, Syekh syarawi, pernah mengisyaratkan bahwa hijrahnya Rasulullah adalah momentum meletakkan batu pertama sistem ketatanegaraan yang adil, di mana hak-hak minoritas dijaga (lewat Piagam Madinah) dan persaudaraan (ukhuwah) diutamakan.

Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa mengimplementasikan semangat Muharram dalam bernegara berarti:

1. Hijrah dari Korupsi ke Integritas: Mengubah mentalitas memperkaya diri menjadi mentalitas melayani rakyat.

2. Hijrah dari Polarisasi ke Persatuan: Menghentikan segala bentuk adu domba dan fitnah digital yang dapat memecah belah bangsa.

3. Hijrah dari Ketidakpedulian ke Kesalehan Sosial: Menumbuhkan kepedulian terhadap kemiskinan dan pendidikan generasi muda.

Penutup: Komitmen BKPRMI Sinjai
Sebagai Ketua Umum DPD BKPRMI Sinjai, saya mengajak seluruh pengurus, kader remaja masjid, serta masyarakat Kabupaten Sinjai secara luas, mari kita jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai titik balik. Pemuda dan remaja masjid harus menjadi garda terdepan dalam “hijrah” moral ini.

Mari kita makmurkan masjid tidak hanya dengan ritual ibadah formal, tetapi juga menjadikannya pusat laboratorium moral, tempat di mana karakter generasi muda bangsa ditempa dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Jika setiap individu bertekad memperbaiki diri, masyarakat akan ikut membaik, dan pada akhirnya, cita-cita mewujudkan bangsa yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (negeri yang baik, aman, adil, dan makmur di bawah ampunan Allah SWT) bukan lagi sekadar impian di atas kertas, melainkan realitas yang kita rasakan bersama.

Selamat Menyambut Bulan Muharram. Mari Bermuhasabah untuk Indonesia yang lebih berkah.