SAUDAGAR.NEWS, Opini – Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Iduladha menghadirkan kembali pelajaran agung tentang cinta, pengorbanan, dan ketaatan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, kisah Ibrahim justru menjadi cermin tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan cinta dalam hidupnya.
Cinta sering dipahami sebagai rasa memiliki. Banyak orang mencintai karena ingin menguasai, mempertahankan, bahkan tidak rela kehilangan. Namun, Nabi Ibrahim mengajarkan bentuk cinta yang berbeda: cinta yang ikhlas dan bersandar kepada Allah. Ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, ujian itu bukan sekadar tentang pengorbanan seorang ayah terhadap anaknya. Itu adalah ujian tentang siapa yang paling dicintai dalam hidupnya.
Sebagai seorang ayah, Ibrahim tentu memiliki kasih sayang yang begitu besar kepada Ismail. Apalagi Ismail hadir setelah penantian panjang yang penuh doa dan harapan. Tetapi ketika perintah Allah datang, Ibrahim tidak mendahulukan ego, perasaan, ataupun kepentingan pribadinya. Ia memilih taat, karena cintanya kepada Allah berada di atas segalanya. Di situlah letak kemuliaan Ibrahim: ia tidak kehilangan cinta kepada anaknya, tetapi ia menempatkan cinta itu dalam bingkai keimanan.
Yang menarik, keteladanan itu juga terlihat pada Nabi Ismail AS. Ia tidak memberontak atau menolak, melainkan menerima dengan penuh keikhlasan. Dialog singkat antara ayah dan anak dalam kisah tersebut menunjukkan hubungan yang dibangun atas dasar iman dan ketundukan kepada Tuhan. Dari sini kita belajar bahwa keluarga yang kuat bukan hanya dibangun dengan materi dan kenyamanan, tetapi juga dengan nilai spiritual dan keteladanan.
Di era sekarang, manusia sering terjebak pada cinta yang bersifat duniawi. Jabatan, harta, popularitas, bahkan media sosial kadang menjadi “sesembahan” baru yang menggeser nilai-nilai ketuhanan. Banyak orang rela mengorbankan kejujuran demi popularitas, mengabaikan keluarga demi ambisi, bahkan kehilangan kepedulian sosial karena terlalu sibuk mengejar kepentingan pribadi. Padahal, Iduladha mengajarkan bahwa hidup yang bermakna justru lahir dari kemampuan untuk berkorban dan berbagi.
Ibadah kurban juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: cinta kepada Allah harus melahirkan cinta kepada sesama manusia. Ketakwaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam ritual, tetapi juga dalam kepedulian sosial. Dalam konteks masyarakat modern yang masih diwarnai kesenjangan ekonomi dan individualisme, semangat kurban menjadi pengingat penting bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada memiliki, tetapi juga memberi.
Teladan cinta Ibrahim adalah teladan tentang ketulusan. Ia mengajarkan bahwa cinta sejati membutuhkan pengorbanan, keikhlasan, dan keberanian untuk menempatkan nilai-nilai ilahi di atas kepentingan duniawi. Iduladha seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi: sudahkah cinta kita mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi sesama?
Pada akhirnya, Ibrahim mengajarkan kepada manusia bahwa cinta tertinggi bukanlah cinta yang mengekang, melainkan cinta yang membebaskan hati dari ketergantungan kepada dunia dan mengarahkannya kepada Tuhan. Dari sanalah lahir keikhlasan, kemanusiaan, dan pengorbanan yang menjadi inti dari Iduladha.
Penulis: Dr. Eril, M.H
(Ketua Prodi Magister Hukum Pidana Islam UIAD)












