SAUDAGAR.NEWS, Bulukumba – Prestasi membanggakan ditorehkan Risal Sulle, Mudir Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi Bulukumba, yang terpilih sebagai delegasi internasional dalam kegiatan Japan Intercultural Exchange and Summit di Tokyo, Jepang.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan Garuda Nusa tersebut, Risal bergabung dengan 19 delegasi lainnya dari berbagai institusi pendidikan di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM), serta dosen Universitas Terbuka Jakarta.
Risal menjadi perwakilan Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi untuk memperkenalkan praktik pendidikan pesantren, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kepada komunitas internasional.
Selama berada di Jepang, ia mengikuti sejumlah agenda penting, di antaranya mengajar di Sekolah Indonesia di Jepang melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang serta menjadi pembicara dalam kegiatan SDG Youth Conference di Universitas Tokyo.
Dalam forum tersebut, Risal memaparkan perjalanan membangun Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi dengan berbagai keterbatasan, sekaligus menjelaskan program pendidikan dan pemberdayaan yang dikembangkan untuk masyarakat.
“Pendidikan di daerah 3T memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi keterbatasan fasilitas dan sumber daya. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru dari keterbatasan, kita harus terus mencari solusi agar pendidikan dan pembinaan generasi Qur’ani tetap berjalan,” ungkap Risal.
Selain berbagi pengalaman mengenai pengelolaan pesantren, ia turut memperkenalkan sejumlah program sosial yang dipimpinnya di wilayah Bulukumba, termasuk kegiatan kemanusiaan yang bekerja sama dengan Asar Humanity, pengaderan guru mengaji bersama Duta Qur’an Indonesia, serta pembinaan sembilan rumah tahfidz di bawah naungan yayasan yang dipimpinnya.
Diskusi internasional tersebut juga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), teknologi, dan inovasi dalam mendukung pembangunan kota dan permukiman yang inklusif serta menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan darat.
Dalam kesempatan itu, Risal mengangkat contoh penerapan inovasi berkelanjutan yang telah dikembangkan di lingkungan pesantren, seperti pemanfaatan lahan untuk kebun sayur dan pengolahan sampah menjadi kompos.
“Pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mendalami ilmu agama, tetapi juga harus mampu memberikan contoh dalam menjaga lingkungan dan membangun kemandirian. Melalui kebun sayur dan pengolahan sampah menjadi kompos, kami berupaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kebiasaan produktif bagi para santri,” jelasnya.
Partisipasi Risal dalam forum internasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan praktik baik pendidikan pesantren di Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi dan gerakan sosial dapat tumbuh dari daerah dengan segala keterbatasannya.
Puncak kegiatan ditandai dengan pemberian penghargaan internasional kepada Risal sebagai “The Most Inspiring Delegate” oleh CEO Garuda Nusa. Penghargaan itu diserahkan di hadapan mahasiswa program magister dan doktor Universitas Tokyo.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kiprah Risal sebagai pemuda dan pimpinan pesantren yang dinilai mampu menghadirkan inspirasi melalui bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan hingga ke tingkat internasional.












