SAUDAGAR.NEWS, Opini – Pengaruh dominasi Platform digital global dalam media Islam. Platform digital global membawa dampak besar bagi media Islam di tiga hal:
1. Distribusi Konten
Dalam ekosistem digital, distribusi konten sangat dipengaruhi oleh algoritma platform yang menentukan konten mana yang lebih sering muncul di beranda pengguna.
Akibatnya, jangkauan konten media Islam sangat bergantung pada kebijakan dan mekanisme platform digital.
Media dituntut untuk menghasilkan konten yang relevan, menarik, dan sesuai dengan karakteristik setiap platform agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Orang belajar agama dengan cara baru: cepat, visual, dan dangkal. Siapa pun bisa menjadi “ustadz”, dan perdebatan tidak sehat sering terjadi.
2. Pola Komsumsi Audiens
Terjadi perubahan perilaku yang cukup signifikan. Audiens saat ini lebih menyukai konten yang mudah diakses melalui berbagai platfrom media, berdurasi singkat, bersifat visual, dan dapat dikonsumsi kapan saja.
Perubahan ini mendorong media Islam untuk mengembangkan berbagai format konten, seperti video pendek, podcast, infografik, siaran langsung, dan konten interaktif, tanpa mengurangi kualitas substansi keislaman yang disampaikan.
3. Pendapatan
Jika sebelumnya pendapatan utama berasal dari penjualan media cetak dan iklan konvensional, kini media harus mengembangkan sumber pendapatan yang lebih beragam.
Pendapatan dapat diperoleh melalui iklan digital, program langganan (subscription), donasi dari audiens (crowdfunding), keanggotaan (membership), kerja sama dengan lembaga, pemasaran afiliasi (affiliate marketing), hingga penjualan produk dan layanan digital.
Strategi Monetisasi Media Islam di Era Digital
Strategi monetisasi media Islam pada platform digital merupakan upaya untuk memperoleh pendapatan guna menjaga keberlanjutan operasional media tanpa menghilangkan tujuan utamanya sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran nilai-nilai Islam.
Berbeda dengan media komersial yang umumnya berorientasi pada keuntungan ekonomi, media Islam dituntut mampu menyeimbangkan antara keberlanjutan finansial dan tanggung jawab moral sesuai dengan prinsip-prinsip syariat.
Ada beberapa strategi yang ditawarkan:
1. Diversifikasi Sumber Pendapatan
Media Islam tidak hanya mengandalkan pendapatan dari iklan digital, tetapi juga mengembangkan model bisnis lain, seperti program langganan (subscription), keanggotaan (membership), donasi dari masyarakat (crowdfunding), kerja sama dengan lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan lembaga filantropi Islam.
Diversifikasi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan, terutama iklan digital yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan platform global.
2. Mengembangkan Konten yang Bernilai (value-based content)
Media Islam berusaha menghasilkan konten yang informatif, edukatif, inspiratif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga mampu membangun kepercayaan dan loyalitas audiens.
Dengan kata lain, nilai ekonomi media dibangun dari kualitas dan kredibilitas konten, bukan semata-mata dari tingginya jumlah klik atau penayangan.
3. Menerapkan Monetisasi yang Sesuai dengan Etika Islam
Dalam praktiknya, media melakukan seleksi terhadap iklan, sponsor, maupun bentuk kerja sama komersial agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
Misalnya, media menghindari promosi produk atau jasa yang berkaitan dengan perjudian, minuman keras, riba, pornografi, atau aktivitas lain yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Dengan demikian, sumber pendapatan yang diperoleh tetap sejalan dengan misi dakwah dan menjaga kepercayaan publik.
4. Memanfaatkan Ekonomi Komunitas (community-based economy)
Melalui media sosial, aplikasi pesan, atau forum daring, media membangun komunitas audiens yang memiliki minat dan nilai yang sama.
Komunitas tersebut tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga berperan sebagai pendukung media melalui donasi rutin, partisipasi dalam kegiatan, pembelian produk, serta penyebaran konten kepada masyarakat yang lebih luas.
Peluang dan tantangan yang dihadapi media Islam
Peluang:
1. Semakin Luasnya Jangkauan Audiens
Platform digital memungkinkan konten keislaman diakses oleh masyarakat lintas daerah, bahkan lintas negara, tanpa dibatasi oleh wilayah geografis.
Kondisi ini membuka kesempatan bagi media Islam untuk memperluas pengaruh dakwah, membangun komunitas digital yang lebih besar, serta meningkatkan loyalitas audiens.
Semakin besar komunitas yang terbentuk, semakin besar pula peluang untuk mengembangkan berbagai model pendanaan, seperti program langganan (subscription), keanggotaan (membership), donasi (crowdfunding), maupun kerja sama dengan lembaga pendidikan, filantropi, dan organisasi keagamaan.
2. Berkembangnya Inovasi Produk dan Layanan Digital
Media Islam tidak lagi hanya memproduksi berita atau artikel, tetapi juga dapat mengembangkan podcast, video edukasi, webinar, kursus daring, buku elektronik, aplikasi pembelajaran Islam, serta berbagai layanan digital lainnya.
Diversifikasi produk tersebut memungkinkan media memperoleh sumber pendapatan yang lebih beragam sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada iklan digital.
Adapun yang menjadi tantangannya:
1. Ketergantungan terhadap Platform Digital Global sebagai Saluran Distribusi Konten
Algoritma platform menentukan tingkat jangkauan suatu konten, sehingga media memiliki kontrol yang terbatas terhadap distribusi informasi.
Perubahan kebijakan platform dapat memengaruhi jumlah pengunjung, interaksi audiens, bahkan pendapatan media secara signifikan.
Kondisi ini menyebabkan posisi media Islam menjadi rentan terhadap keputusan perusahaan platform yang berada di luar kendali mereka.
2. Dominasi Perusahaan Platform Digital dalam Pasar Periklanan
Sebagian besar belanja iklan digital terserap oleh platform global, sementara media sebagai produsen konten memperoleh porsi pendapatan yang relatif kecil.
Akibatnya, media Islam perlu bekerja lebih keras untuk mencari sumber pembiayaan alternatif agar tetap dapat menjalankan operasional secara berkelanjutan.
Model bisnis media Islam yang adaptif dan berkelanjutan menghadapi perubahan ekosistem platform digital.
- membangun model bisnis yang terdiversifikasi.
- mengembangkan strategi distribusi multiplatform.
- mengutamakan produksi konten yang berkualitas dan bernilai.
- penguatan komunitas audiens.
- memanfaatkan teknologi dan analisis data.
Aspek pendukung: penerapan tata kelola organisasi yang profesional.
Keberlanjutan media Islam bergantung pada kualitas sumber daya manusia, kepemimpinan, transparansi pengelolaan keuangan, serta kemampuan berinovasi.
Pengelolaan yang profesional akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, mitra, dan para pendukung media sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Penulis: Rahma
Mahasiswi Pascasarjana Prodi KPI UIN Alauddin Makassar

